Senin, 13 Februari 2012

Penilaian Acuan Patokan dalam Ujian Akhir Semester dan Kenaikan Kelas Bagi Siswa SMP Kelas VII dan VIII: Sebuah Tinjauan


Wahidin Capah, S.Pd
Guru SMP Negeri 3 Sidikalang





Abstraksi
Penilaian akhir adalah suatu keharusan di setiap sekolah. Hasil penilaian itu digabung dengan nilai kelas untuk memperoleh nilai rapor. Fakta menunjukkan kenyataan tidak baik, karena banyak siswa tidak mencapai KKM dan pada akhirnya setelah digabung dengan nilai harian,  nilai akhir pun menjadi tidak tuntas atau tidak bisa naik kelas karena banyak mata pelajaran menunjukkan hal yang sama. Jalan keluar yang biasa ditempuh adalah mengadakan remidial yang tentunya memberatkan bagi guru dan siswa. Jamak terjadi adalah katrol nilai, yang pada dasarnya tidak diingini semua pihak. Untuk mengatasi hal itu lebih baik adalah memberi bobot pada setiap skor yang diperoleh siswa. Bobot setiap jawaban soal ditentukan setelah menganalisis butir soal yang diujikan. Dari analisis soal yang dilakukan pada soal ujian kenaikan kelas pelajaran Bahasa Indonesia didapat soal yang tidak layak 21 soal dari 40 item. Soal berkategori sangat sukar ada 10 item. Dari kenyataan ini dapat kita peroleh gambaran bahwa skor 30 sudah layak mendapat nilai 100 (satu soal = 3,33). Cara ini lebih dekat dengan PAN yang cocok digunakan mendampingi PAP.











Bab 1
Pendahuluan
Guru profesional harus memahami peraturan yang berhubungan dengan tugas profesinya dan kompetensi yang harus dimilikinya. Salah satu kompetensi paedagogis adalah menyelenggarakan penilaian dan  evaluasi proses dan hasil belajar. Pemerintah pun telah mengeluarkan standar untuk penilaian yang perlu dipedomani para guru. Dari standar penilaian yang dikeluarkan oleh BNSP dapat diketahui jenis-jenis penilaian yang perlu dilaksanakan. Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.  Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih. Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut. Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan KD pada semester tersebut” ( Permendiknas RI No. 20 tahun 2007)
            Alat penilaian yang digunakan adalah berupa tes dan non tes. Tes ada berbagai bentuk antara lain uraian objektif, uraian nonobjektif, pertanyaan singkat, melengkapi, pilihan ganda (multiple choise). Dalam kenyataan, ulangan semester, ulangan kenaikan kelas, ujian akhir biasanya menggunakan tes pilihan ganda. Instrumen penilaian mana pun yang dipakai, guru hendaknya meyakini bahwa alat yang digunakan memenuhi persyaratan (a) substansi, menunjukkan kompetensi yang akan diukur, (b) konstruksi, mengikuti persyaratan sesuai instrumen yang digunakan, dan (c) bahasa, sesuai dengan taraf perkembangan siswa yang akan diukur. Hasil pengukuran dianalisis untuk menghasilkan data kuantitatif berupa nilai yaitu gambaran kualitas kompetensi siswa.
          Dalam prinsip pengembangan KTSP, oleh BNSP telah ditetapkan prinsip penilaian yang sahih, objektif, adil, terbuka, menyeluruh dan berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria, dan akuntabel. Penilaian beracuan kriteria menuntut setiap kompetensi dasar mempunyai Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) yang ditetapkan oleh guru berdasarkan tingkat kerumitan materi, esensi, output dan daya dukung yang tersedia. Penguasaan siswa terhadap kompetensi dasar yang disajikan dan diuji  harus sama atau di atas KKM. Jika peserta didik dalam satu rombongan belajar 80%  telah mencapai KKM barulah program pembelajaran dapat dilanjutkan ke kompetensi dasar berikutnya. Sedangkan siswa yang belum tuntas mengikuti program remidial dalam waktu tertentu. Namun, Penilaian Acuan Kriteria, jika tiba saatnya pada ulangan akhir semester menjadi permasalahan. Hal ini tidak terjadi pada waktu ulangan harian, ulangan tengah semester, karena selalu tersedia waktu untuk mengadakan remidial. Cakupan ulangan semester adalah semua kompetensi dasar pada semester tersebut, yang ternyata hasilnya masih banyak siswa di bawah KKM. Nilai di bawah KKM ini akan menarik nilai harian/nilai ulangan tengah semester ke bawah KKM setelah dirata-ratakan padahal nilai harus segera diisikan ke rapor untuk laporan semester. Tidak ada waktu untuk mengadakan remidial pada akhir semester. Akan bertambah sulit  lagi pada ulangan kenaikan kelas. 
            Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VIII yang penulis ampu. setelah diuji pada kenaikan kelas hanya 13 orang (15,85%) dari 82 orang siswa yang mencapai nilai sama atau di atas KKM yang ditetapkan yaitu 70.
            Dari uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan yaitu :
1.      Bagaimana tindak lanjut jika dalam kenyataan skor perolehan siswa pada ujian akhir semester 50 persen atau lebih tidak mencapai KKM ?
2.      Apakah cukup waktu untuk melaksanakan kegiatan remidial ?





Bab 2
Kajian Teori
Analisis butir soal adalah bagian dari kegiatan menilai tes buatan guru melalui hasil yang diperoleh oleh siswa untuk mengetahui apakah soal-soal yang dibuat guru valid atau tidak. Walaupun menurut guru bahwa tes yang disusun adalah tes yang sudah baik, masih diperlukan upaya menilai tes itu untuk memastikan mutu tes tersebut. Tes adalah alat ukur, sama seperti liter, meter, timbangan. Liter yang baik akan memberikan hasil yang tepat jika mengukur volume sebuah bejana. Pengukuran untuk suatu benda dengan pengukuran dalam pendidikan tidak bisa disamakan hasilnya. Pengukuran benda sifatnya langsung, sedangkan pengukuran pendidikan sifatnya perkiraan. Tes diadakan untuk mengukur seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam satu periode tertentu. Hasil pengukuran di sini sifatnya relatif. Agar hasilnya baik dalam arti kesalahan pengukurannya sangat minim maka tesnya harus baik. Scarvia B. Anderson,dkk dalam Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Suharsimi Arikunto (2009:87), mengatakan ada dua syarat tes yang baik yaitu valid dan reliabel.  Dalam hal ini validitas lebih penting, dan reliabilitas ini perlu. Sebuah tes mungkin reliabel tetapi tidak valid. Sebaliknya sebuah tes yang valid biasanya reliabel. Untuk menilai suatu tes sudah baik atau belum, dilakukan beberapa kegiatan dan salah satunya ialah analisis butir soal.
Analisis butir soal akan menunjukkan butir soal yang valid, soal yang tepat mengukur apa yang mesti diukur. Walaupun validitas soal tidak dapat terjamin bila hanya sekali dilaksanakan dan sekali dianalisis, namun untuk menjamin kesahihan penilaian hasil analisis ini sudah dapat digunakan. Akan lebih akurat hasil penilaian terhadap siswa jika soal dalam satu kegiatan pengukuran memenuhi kriteria berikut : (1)mengukur secara tepat pencapaian hasil belajar siswa; (2) berada sekitar  tiga indeks tingkat kesukaran yaitu sukar, sedang dan mudah; (3) dapat membedakan siswa yang pandai dengan siswa yang bodoh; (4) menggunakan pengecoh-pengecoh yang efektif.
Analisis butir soal dilakukan oleh guru dalam dua periode yaitu sebelum tes tersebut diujikan dan setelah diujikan. Setelah soal sesuai kebutuhan suatu penilaian selesai tersusun, biasanya guru harus mereview kembali apakah soal tersebut telah memenuhi syarat penulisan soal yang baik. Dan sebaiknya telaah soal ini dilakukan oleh tim di sekolah, sebab kekurangan itu biasanya tidak terlihat oleh penulis soal.
Anilisis butir soal yang kedua adalah setelah diujicobakan. Namun, hal ini jarang terjadi karena berbagai alasan. Biasanya soal disusun untuk menuju ujian semester atau kenaikan kelas. Lalu mengapa dianalisis kalau sudah selesai diujikan kepada peserta didik, atau sudah disajikan ? Hal inilah yang akan dijawab dalam pembahasan berikutnya.
Kriteria Ketuntasan Minimal
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) adalah tingkat penguasaan kompetensi dasar minimal yang harus dicapai oleh siswa. KKM ditetapkan pada awal tahun pelajaran dengan rentang 0 – 100. Contohnya, Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Berampu menetapkan KKM tahun pelajaran 2008/2009 adalah 60. Besaran ini adalah hasil rata-rata dari KKM setiap Kompetensi Dasar. Sedangkan untuk Kompetensi Dasar 1.1. Pelajaran Bahasa Indonesia ditetapkan 65. Jika siswa diuji di akhir pembelajaran Kompetensi Dasar 1.1 tidak mencapai nilai 65 siswa tersebut harus remidial.
Penilaian Acuan Patokan dan Penilaian Acuan Norma
Dalam Buku Panduan Evaluasi Belajar untuk Sekolah Lanjutan Umum (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1982) penilaian acuan patokan disebut dengan penilaian standar mutlak dan penilaian acuan norma disebut dengan penilaian standar relatif. Untuk mengetahui ketuntasan minimal atas pencapaian penguasaan kompetensi dasar dalam KTSP digunakan Penilaian Acuan Kriteria atau standar mutlak. Pengukuran ini menggunakan rumus : skor mentah yang diperoleh siswa dibagi dengan skor maksimum dikalikan seratus. Jika hasilnya masih dibawah standar (KKM) itu berarti siswa tersebut harus mengikuti remidial. Penilaian Standar Relatif adalah pengukuran berdimensi lain. Sekor siswa 65 apakah di atas rata-rata atau dibawah rata-rata, yaitu melihat atau mengetahui bagaimana kedudukan siswa tersebut dalam kelasnya.
Remidial dan Pengayaan
Program remidial dan program pengayaan berjalan sekali gus. Siswa yang tidak mencapai KKM mengikuti program remidial, dan siswa yang sudah mencapai atau melewati batas KKM mengikuti program pengayaan. Waktu untuk kegiatan ini adalah bagian dari kalender pendidikan. Jika program penyajian satu KD ditetapkan 5 jam pelajaran remidialnya minimal 2 jam pelajaran.
Ujian Akhir Semester
Ujian akhir semester dan ujian kenaikan kelas adalah pengujian terhadap seluruh KD dalam satu semester. Di sinilah berlaku KKM yang ditetapkan pada awal tahun pelajaran tersebut.






Bab 3
Hasil dan Pembahasan

Jumlah soal yang disusun untuk Ujian Kenaikan Kelas kelas VIII tahun pelajaran 2010/2011 sebanyak 40 item. Peneliti mengajar pada kelas VIII.1 dan VIII.3 dengan jumlah siswa 84 orang dan hasilnya sebagai berikut:
31 30 29 29 29 29 29 29 29 28 28 28 28 27 27 27 26 26 26 26
26 26 25 25 25 25 25 25 24 24 24 24 24 24 24 24 24 23 23 23
            23 23 23 23 23 23 23 23 23 22 22 22 22 22 22 22 21 21 21 21
21 21 21 21 21 21 21 21 20 20 20 20 19 19 19 19 18 18 17 17
16 16 13 12   
           
Tabel 1 : Skor perolehan Siswa Kelas 8.1 dan 8.3

Sekor tertinggi 31; terendah 12 masing-masing satu orang. Tabulasi skor dan frekuensinya adalah sebagai berikut :
NO
SEKOR
FREKUENSI
1
31
1
2
30
1
3
29
7
4
28
4
5
27
3
6
26
5
7
25
6
8
24
9
9
23
12
10
22
7
12
21
12
13
20
4
14
19
4
15
18
2
16
17
2
17
16
2
18
13
1
19
12
1

N
84
Tabel 2 : Frekuensi skor
            Dalam periode ini siswa yang mencapai KKM Bahasa Indonesia yaitu 70 adalah
Siswa dengan skor 28 ( rumusnya : Jumlah skor dibagi jumlah soal).Dari hasil pengujian atau evaluasi ini ternyata siswa yang tuntas hanya 13 orang dari 84 orang siswa. Siswa sebanyak 71 orang perlu mengikuti program remidial, yang harus memakan waktu paling sedikit 10% dari waktu penyajian satu semester yaitu antara 9 sampai 10 jam pelajaran. Dua minggu sebelum penutupan semester (pembagian Laporan Hasil Belajar) kegiatan ini telah dilakukan. Seminggu sebelum pembagian laporan guru mempersiapkan laporan (mengisi instrumen laporan /rapor siswa). Ketika program remidial dilaksanakan nilai ujian semester telah diolah menjadi nilai rapor. 
Terlebih lagi dalam ujian kenaikan kelas, nilai akhir yang sangat banyak di bawah KKM akan menimbulkan masalah baru. Akankah dinaikkan juga jika banyak atau kebanyakan nilai rapor di bawah KKM? Penentuan naik kelas adalah sesuatu yang ”sakral” bagi para pendidik. Tetapi alangkah rendahnya martabat guru jika untuk mencapai KKM dalam persoalan kenaikan kelas terjadi katrol nilai sehingga tidak ada perbedaan antara siswa cerdas dan kurang mampu.
            Penilaian Acuan Patokan atau Penilaian Acuan Kriteria yang ditetapkan dalam KTSP mempunyai kelemahan dalam hal ujian akhir semester. Hal ini perlu diantisipasi untuk tidak terjadi katrol nilai yang biasanya tidak objektif lagi, dan tidak membedakan antara siswa kurang dengan siswa cerdas.

            Analisis Butir Soal
Dari 84 lembar jawaban penulis mengambil sampel 30 lembar jawaban terdiri dari 15 lembar  sekor atas dan 15 lembar sekor rendah (bawah). Hasil analisis butir soal tersebut seperti berikut :
No
Kategori
Jumlah soal
1
Sangat sukar (Ss)
8
2
Sukar (S)
1
3
Sedang (Sd)
26
4
Mudah (Md)
0
5
Sangat Mudah (SMd)
5
Jumlah Soal
40
Tabel 3 : Tingkat Kesukaran Soal
Dari tabel di atas telah tergambar bahwa distribusi tingkat kesukaran soal tidak baik. Ketentuan yang berlaku selam ini adalah 25- 50-25. Artinya 25% mudah dan sukar dan 50% sedang. Jumlah soal yang layak untuk diujikan (alat ukur) adalah 27 yaitu berkategori sukar (1), sedang (26), dan mudah (0).
Jumlah soal berkategori sangat mudah, mudah dan sedang adalah 31. Sekor tertinggi yang diperoleh oleh peserta adalah 31. Hal ini sangat jelas menggambarkan betapa pentingnya analisis butir soal sebelum menetapkan skor perolehan siswa.
Dari 27 soal yang layak sebagai alat ukur dengan sekor ideal 100 maka setiap soal yang dijawab benar  mendapat bobot  3,70. karena jumlah soal 40 untuk mencapai skor 100  berarti bobot 2,5. Karena ada soal yang sangat mudah 5 yang membantu pencapaian sekor, tepatnya bobot harus disesuaikan lagi menjadi 3,22.
            Berdasarkan Penilaian Acuan Kriteria penentuan nilai siswa adalah jumlah soal yang benar per jumlah soal seluruhnya dikali 100, nilai siswa peringkat pertama adalah 31/40 x 100 =  77,50; sekor yang mencapai KKM 70 adalah 28 sehingga siswa yang tuntas hanya 13 orang dari 84 orang ( 15,47%). Nilai paling rendah yaitu 12/40 x 100 = 30. Pada hal setelah dianalisis diketahui bahwa soal yang tidak layak ada 13 item.
           
            Alternatif penentuan nilai setelah mengetahui kelemahan alat ukur adalah dengan mengubah sekor berdasarkan jumlah sekor yang diperoleh siswa terpandai yaitu 3,22. nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 38,64 ( 12 x 3,22). Nilai rata-rata setelah dianalisis 69,32; sebelum dianalisis (Nilai Mutlak) 53,75. Siswa yang mencapai KKM adalah mendapat sekor 22 sebanyak 66 orang ( 76,74%). Penggabungan dengan nilai tengah semester dan nilai harian jelas akan menambah persentasi pencapaian KKM dan akan mengurangi siswa yang remidial sekaligus mengurangi beban guru.
Bab 4
Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Dari uraian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa soal yang kurang baik dapat mengurangi pemrolehan sekor yang diharapkan oleh siswa. Ada kesejajaran jumlah soal yang layak sebagai alat ukur dengan perolehan skor maksimal peserta ujian. Analisis Butir Soal dan Hasil belajar yang dilaksanakan penulis telah membuktikan hal tersebut.   
Jika tidak sampai 75 %  peserta memperoleh skor (nilai) sama atau diatas KKM jalan pertama yang harus ditempuh adalah menganalisis butir soal untuk mengetahui apakah ada soal yang tidak layak sebagai alat ukur. Butir Soal yang layaklah yang digunakan sebagai alat ukur dan bobotnya disesuaikan kembali.

Saran
            Untuk tidak mengorbankan siswa mengikuti remidial di akhir semester atau akhir tahun pembelajaran ada baiknya PAN dapat diterapkan kembali di sekolah. PAN yang direkomendasikan oleh hasil tinjauan ini adalah pembobotan ulang. Pembobotan ulang adalah dengan menetapkan bobot soal yang diujikan yaitu skor ideal dibagikan jumlah soal layak atau dengan membagikan skor ideal (100) dengan skor tertinggi perolehan siswa. Semoga tulisan ini dapat menjadi acuan rekan profesional.





Kepustakaan
Arikunto. Suharsimi: Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Revisi), PT Bumi Aksara,
        Jakarta  2009
Departemen Pendidikan Nasional. Penilaian dan Pengujian untuk Guru SLTP, 2000
                        ‘’          Buku Panduan Evaluasi Belajar untuk Sekolah Lanjutan Umum.
        1982
Nasution.Noehi, dkk: Psikologi Pendidikan, Materi Pokok PPDG 2410, Pusat
        Penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta, 2000

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar